Tuesday, November 27, 2007

* r.o.h *

[author unknown]
* thanks to babeh, for sharing the story

Kali ini, saya ingin bercerita tentang salah satu kebiasaan
yang ditemui pada penduduk yang tinggal di sekitar
kepulauan Solomon, yang letaknya di Pasifik Selatan.

Nah, penduduk primitif yang tinggal di sana mempunyai
sebuah kebiasaan yang menarik, yakni meneriaki pohon.
Untuk apa? Kebiasaan ini ternyata mereka lakukan apabila
terdapat pohon dengan akar-akar yang sangat kuat dan
sulit untuk dipotong dengan kapak.

Inilah yang mereka lalukan. Jadi tujuannya supaya pohon
itu mati. Caranya adalah, beberapa penduduk yang lebih
kuat dan berani akan memanjat hingga ke atas pohon itu.

Lalu, ketika sampai di atas pohon itu bersama dengan
penduduk yang ada di bawah pohon, mereka akan
berteriak sekuat-kuatnya kepada pohon itu. Mereka
lakukan teriakan berjam-jam, selama kurang lebih
empat puluh hari. Dan, apa yang terjadi sungguh
menakjubkan. Pohon yang diteriaki itu perlahan-lahan
daunnya akan mulai mengering. Setelah itu dahan-
dahannya juga mulai akan rontok dan perlahan-lahan
pohon itu akan mati dan dengan demikian,
mudahlah ditumbangkan.

Kalau kita perhatikan apa yang dilakukan oleh penduduk
primitif ini sungguhlah aneh. Namun kita bisa belajar
satu hal dari mereka. Mereka telah membuktikan bahwa
teriakan-teriakan yang dilakukan terhadap mahkluk
hidup tertentu seperti pohon akan menyebabkan
benda tersebut kehilangan rohnya. Akibatnya, dalam
waktu panjang, makhluk hidup itu akan mati.

Nah, sekarang, apakah yang bisa kita pelajari dari
kebiasaan penduduk primitif di kepulauan Solomon ini?
Tentu sangat berharga sekali. Yang jelas, ingatlah
baik-baik bahwa setiap kali Anda berteriak kepada
mahkluk hidup tertentu maka berarti Anda sedang
mematikan rohnya.

Pernahkah Anda berteriak pada anak Anda?
Ayo cepat! Dasar leletan? Bego banget sih. Hitungan
mudah begitu aja nggak bisa dikerjakan? Ayo, jangan
main-main disini. Berisik! Bising!?


Atau, pernahkah Anda berteriak kepada orang tua
Anda karena merasa mereka membuat Anda jengkel?
Kenapa sih makan aja berceceran? Kenapa sih sakit
sedikit aja mengeluh begitu? Kenapa sih jarak dekat
aja minta diantar? Mama, tolong nggak usah cerewet,
boleh nggak?

Atau, mungkin Anda pun berteriak balik kepada
pasangan hidup Anda karena Anda merasa sakit hati?
Cuih! Saya nyesal kawin dengan orang seperti kamu,
tahu nggak! Iii! Bodoh banget jadi laki nggak bisa
apa-apa! Aduh. Perempuan kampungan banget sih!?

Atau, bisa seorang guru berteriak pada anak didiknya?
E, tolol. Soal mudah begitu aja nggak bisa. Kapan
kamu mulai akan jadi pinter?

Atau seorang atasan berteriak pada bawahannya
saat merasa kesel?
Ee tahu gak? Karyawan kayak kamu tuh kalo pergi
aku kagak bakal nyesel. Ada banyak yang bisa
gantiin kamu! Sial! Kerja gini nggak becus?
Ngapain gue gaji elu?

Ingatlah! Setiap kali Anda berteriak pada seseorang
karena merasa jengkel, marah, terhina, terluka --
ingatlah dengan apa yang diajarkan oleh penduduk
kepulauan Solomon ini.

Mereka mengajari kita bahwa setiap kali kita mulai
berteriak, kita mulai mematikan roh pada orang
yang kita cintai. Kita juga mematikan roh yang
mempertautkan hubungan kita.

Teriakan-teriakan, yang kita keluarkan karena
emosi-emosi kita perlahan-lahan, pada akhirnya
akan membunuh roh yang telah melekatkan
hubungan kita.

Jadi, ketika masih ada kesempatan untuk berbicara
baik-baik, cobalah untuk mendiskusikan mengenai
apa yang Anda harapkan. Coba kita perhatikan
dalam kehidupan kita sehari-hari. Teriakan, hanya
kita berikan tatkala kita bicara dengan orang
yang jauh jaraknya, bukan ?

Nah, tahukah Anda mengapa orang yang marah dan
emosional, menggunakan teriakan-teriakan padahal
jarak mereka hanya beberapa belas centimeter.
Mudah menjelaskannya. Pada realitanya, meskipun

secara fisik mereka dekat tapi sebenarnya
hati mereka begitu jauh. Itulah sebabnya mereka
harus saling berteriak !

Selain itu, dengan berteriak, tanpa sadar mereka pun

mulai berusaha melukai serta mematikan roh pada
orang yang dimarahi kerena perasaan-perasaan dendam,
benci atau kemarahan yang dimiliki. Kita berteriak
karena kita ingin melukai, kita ingin membalas.

Jadi mulai sekarang ingatlah selalu. Jika kita tetap

ingin roh pada orang yang kita sayangi tetap tumbuh,
berkembang dan tidak mati, janganlah menggunakan
teriakan-teriakan. Tapi, sebaliknya apabila Anda ingin
segera membunuh roh pada orang lain ataupun roh

pada hubungan Anda, selalulah berteriak.

Hanya ada 2 kemungkinan balasan yang Anda akan

terima. Anda akan semakin dijauhi. Ataupun Anda
akan mendapatkan teriakan balik, sebagai balasannya.

Saatnya sekarang, kita coba ciptakan kehidupan yang

damai, tanpa harus berteriak-teriak untuk mencapai
tujuan kita. Bisa?

No comments: